Jumat, 26 Juni 2009

BERMAIN DAN BELAJAR PADA ANAK USIA DINI (USIA 3 -6 TAHUN)

BERMAIN DAN BELAJAR PADA ANAK USIA DINI (USIA 3 -6 TAHUN)
Oleh Mintarsih Arbarini

A. Hakikat Bermain bagi Anak Usia Dini
Bermain adalah dunia kerja anak usia dini dan menjadi hak setiap anak untuk bermain tanpa dibatasi usia. Bermain merupakan pengalaman langsung yang efektif dilakukan anak usia dini dengan atau tanpa alat permainan. Bagi anak, bermain dijadikan sebagai kesempatan yang menyenangkan karena anak melakukannya dengan sukarela, spontan dan tanpa beban. Ketika bermain anak bereksplorasi, menemukan sendiri hal yang sangat membanggakan, mengembangkan diri dalam berbagai perkembangan emosi, sosial, fisik, dan intelektualnya. Melalui bermain anak dapat memetik berbagai manfaat bagi perkembangan aspek fisik - motorik, kecerdasan, dan sosial emosional. Ketiga aspek ini saling menunjang satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Dengan kegiatan bermain anak dapat belajar berbagai ketrampilan dengan senang hati tanpa merasa terpaksa atau dipaksa untuk mempelajarinya.

B. Manfaat Bermain
Dunia anak adalah dunia bermain. Kebutuhan bermain sudah dimulai sejak bayi bias mendengar dan melihat dengan jelas. Warna yang mencolok dan bunyi yang berdering akan menjadi pusat perhatian si kecil yang berusia kurang dari satu tahun. Kemudian semakin berkembang dengan keinginan melihat, memegang, dan melempar. Inilah awal bentuk bermain bagi anak, yang selanjutnya kesehariannya tidak akan lepas dari kesenangannya bermain. Dari bermain itulah anak mendapatkan berbagai manfaat dalam proses perkembangan seluruh potensi yang dimilikinya. Manfaat bermain bagi anak usia dini meliputi:

1. Manfaat bermain untuk perkembangan aspek fisik
Ketika bermain anak mendapat kesempatan untuk melakukan kegiatan yang banyak melibatkan gerakan-gerakan tubuh, sehingga membuat tubuh anak menjadi sehat.selain itu, anggota tubuh mendapat kesempatan untuk digerakkan, dan anak juga dapat menyalurkan tenaga (energi) yang berlebihan sehingga anak tidak merasa gelisah.
2. Manfaat bermain untuk perkembangan aspek motorik kasar dan motorik halus
Aspek motorik kasar dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain, misalnya anak yang bermain kejar-kejaran untuk menangkap temannya. Aspek motorik halus dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain mewarnai, menggambar bentuk-bentuk tertentu atau meronce berbagai bentuk dengan variasi berbagai bahan.
3. Manfaat bermain untuk perkembangan aspek sosial
Dengan bermain anak belajar berkomunikasi dengan sesama teman baik dalam hal mengemukakan isi pikiran dan perasaannya maupun memahami apa yang diucapkan oleh teman,sehingga hubugan dapat terbina dan dapat saling tukar informasi.
4. Manfaat bermain untuk perkembangan aspek emosi atau kepribadian
Melalui bermain anak dapat melepaskan ketegangan yang dialaminya dalam hidupnya sehari-hari. Selain itu, bermain bersama sekelompok teman anak akan mempunyai penilaian terhadap dirinya sehingga dapat membantu pembentukan konsep diri, rasa percaya diri, dan harga diri karena ia merasa mempunyai kompetensi tertentu.
5. Manfaat bermain untuk perkembangan aspek kognitif
Pada usia dini anak diharapkan menguasai berbagai konsep seperti warna, ukuran, bentuk, arah, besaran sebagai landasan untuk belajar menulis, bahasa, matematika, dan ilmu pengetahuan sosial. Pemahaman konsep-konsep ini lebih mudah diperoleh jika dilakukan melalui kegiatan bermain.
6. Manfaat bermain untuk mengasah ketajaman penginderaan
Penginderaan menyangkut penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perabaan. Melalui kegiatan bermain kelima aspek penginderaan dapat diasah agar anak menjadi lebih tanggap atau peka terhadap hal-hal yang berlangsung di lingknungan sekitarnya.
7. Manfaat bermain untuk mengembangkan keterampilan olahraga dan menari
Dalam kegiatan bermain olahraga anak melakukan gerakan-gerakan olahraga seperti berlari, melompat, menendang dan melempar bola sehingga anak akan memiliki tubuh yang sehat,kuat dan cekatan. Dalam kegiatan menari anak melakukan gerakan-gerakan yang lentur dan tidak canggung-canggung sehingga anak akan memiliki rasa percaya diri.

C. Alasan Anak Suka Bermain
Bermain pada awalnya belum mendapat perhatian khusus dari para ahli ilmu jiwa, karena terbatasnya pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak dan kurangnya perhatian terhadap perkembangan anak. Salah satu tokoh yang dianggap berjasa untuk meletakkan dasar tentang bermain adalah seorang filsuf Yunani yang bernama Plato. Plato dianggap sebagai orang pertama yang menyadari dan melihat pentingnya nilai praktis dari bermain. Secara garis besar, ada dua macam teori yang mencoba menjawab alasan mengapa anak suka bermain yaitu teori Klasik dan teori Modern.
Teori Klasik menerangkan 4 ( empat ) alasan mengapa anak suka bermain dengan dasar antara lain:
1. Kelebihan Energi
Teori ini didukung oleh Herbert Spencer (pada abad 19) yang menyatakan bahwa anak memiliki energi yang digunakan untuk mempertahankan hidup. Jika kehidupannya normal, maka anak kelebihan energi yang selanjutnya digunakan untuk bermain seperti berlari, melompat, bergulingan atau berbagai kegiatan yang menjadi ciri khas kegiatan anak. Kebanyakan orang tua atau guru menggunakan teori ini misalnya anak sulit untuk diajak tenang, orang tua atau guru mengajak anak untuk bermain yang sedikit menguras tenaga, setelah itu anak lebih mudah untuk duduk dengan tenang.
2. Rekreasi dan Relaksasi
Teori ini didukung oleh seorang penyair Jerman bernama Moritz Lazarus (abad 19) yang menyatakan bahwa bermain untuk menyegarkan kembali tubuh. Jika energi sudah digunakan untuk melakukan pekerjaan, anak-anak menjadi lelah dan kurang bersemangat. Dengan bermain, anak-anak memperoleh kembali energi sehingga mereka lebih aktif dan bersemangat kembali.
3. Insting
Teori ini diajukan oleh Karl Groos (abad 19) yang menyatakan bahwa bermain merupakan sifat bawaan (insting) yang berguna untuk mempersiapkan diri melakukan peran orang dewasa. Jika anak berpura-pura menjadi seorang ibu, ayah, atau guru maupun profesi yang lain, hal itu akan sangat penting bagi kehidupannya kelak ketika anak benar-benar menjadi profesi tersebut. Tujuan bermain disini adalah sebagai sarana latihan dan mengelaborasi ketrampilan yang diperlukan saat dewasa nanti.
4. Rekapitulasi
Teori ini dikemukakan oleh G. Stanley Hall, seorang profesor psikologi dan paedagogi (abad 19). Teori ini menyatakan bahwa bermain merupakan peristiwa mengulang kembali apa yang telah dilakukan oleh nenek moyangnya dan sekaligus untuk mempersiapkan diri dalam hidup pada jaman sekarang. Anak-anak suka bermain pasir, air, tanah, dan batu seakan-akan mengulang permainan manusia prasejarah.
Teori Modern memandang bermain sebagai bagian dari perkembangan anak, baik kognitif, emosional, maupun sosial anak. Berikut ini beberapa teori yang mendasari alasan mengapa anak suka bermain.
1. Teori Psikoanalisa
Menurut Freud, bermain sama seperti fantasi atau lamunan. Melalui bermain atau berfantasi seseorang dapat memproyeksikan harapan-harapan maupun konflik pribadi. Anak dapt mengeluarkan semua perasaan negatif, seperti pengalaman tidak menyenangkan atau traumatik dan harapan-harapan yang tidak terwujud dalam realita melalui bermain. Dengan mengulang-ulang pengalaman negatif melalui bermain, menyebabkan anak dapat mengatasi kejadian yang tidak menyenangkan karena anak dapat membagi pengalaman tersebut ke dalam bagian-bagian kecil yang dapat dikuasainya. Secara perlahan dia dapat mengasimilasi emosi negatif berkenaan dengan pengalamannya sehingga timbul perasaan lega. Bermain juga mengembangkan rasa percaya diri dan kemampuan sosialnya (Erikson, 1963). Dan, bermain juga memungkinkan anak untuk mengekspresikan perasaannya secara leluasa tanpa tekanan batin.
2. Teori Perkembangan Kognitif
Para tokoh yang tergabung dalam teori kognitif antara lain Jean Piaget, Vygotsky, Bruner, sutton Smith serta Singer. Bermain merupakan bagian dari perkembangan kognitif anak. Bermain juga merupakan proses berpikir secara fleksibel dan proses pemecahan masalah. Pada saat bermain anak dihadapkan pada berbagai situasi, kondisi, teman, dan objek nyata maupun imajiner yang memungkinkan menggunakan berbagai kemampuan berpikir dan memecahkan masalah. Bermain dengan objek di lingkungannya merupakan cara anak belajar. Dengan berinteraksi dengan objek dan orang anak menggunakannya untuk berbagai keperluan mengkonstruksi pemahaman tentang objek, orang, dan situasi.
3. Teori Belajar Sosial
Teori ini menjelaskan bahwa bermain merupakan alat untuk sosialisasi. Dengan bermain dengan anak lain, anak akan mengembangkan kemampuan memahami perasaan, ide, dan kebutuhan orang lain yang merupakan dasar dari kemampuan sosial. Piaget juga menemukan bahwa bermain dimulai dari bermain sendiri (soliter play), sampai bermain secara kooperatif (cooperatif play) yang menunjukkan adanya perkembangan sosial anak. Vygotsky menyatakan bahwa pada saat bermain anak menunjukkan kemampuan di atas biasanya, di atas perilaku kesehariannya, dan seakan-akan ia lebih tinggi dari sebenarnya.

D. Esensi Bermain
Meskipun permainan anak-anak di seluruh dunia dari waktu ke waktu berbeda-beda, tampaknya esensinya tetap sama yaitu antara lain:
1. Aktif
Pada hampir semua permainan anak aktif secara fisik maupun psikis. Anak melakukan eksplorasi, investigasi, eksperimentasi, dan ingin tahu tentang orang, benda, maupun kejadfian. Anak menggunakan berbagai benda untuk bermain. Mereka juga menggunakan benda untuk merepresentasikan benda lainnya. Misalnya sebuah balok kayu dapat menjadi mobil, sehingga anak pura-pura menggerakkan balok kayu tersebut seperti gerakan mobil sambil bersuara menirukan suara mobil. Anak juga suka bermain dengan berbagai gerakan seperti berlari, mengejar, menangkap, dan melompat. Jadi pada saat bermain anak aktif melakukan berbagai kegiatan baik fisik maupun psikis.
2. Menyenangkan
Kegiatan bermain tampak sebagai kegiatan yang bertujuan untuk bersenang-senang. Meskipun tidak jarang bermain menimbulkan tangis diantara anak yang terlibat, anak-anak menikmati permainannya, mereka bernyanyi, tertawa, berteriak lepas dan ceria seakan-akan tidak memiliki beban.
3. Voluntir dan motivasi internal
Anak ikut dalam suatu kegiatan bermain secara sukarela. Mereka termotivasi dari dalam dirinya (motivasi internal) untuk ikut bermain. Bentuk permainannya juga dipilih dan ditentukan bersama. Begitu pula peran masing-masing anak ditentukan secara adil sesuai aturan yang berlaku.
4. Memiliki aturan
Setiap permainan ada aturannya. Untuk permainan petak umpet misalnya, ada aturan baik untuk menentukan anak yang akan berperan sebagai pencari dan yang dicari misalnya denga cara ping sut atau hom pim pa. Anak yang ketahuan paling awal akan menjadi pencari berikutnya. Jika anak yang bersembunyi tidak kunjung ditemukan, mereka juga akan memberi tanda agar mereka bisa ditemukan oleh temannya yang mencari.
5. Simbolik dan berarti
Pada saat bermain anak menghubungkan antara pengalaman lampaunya yang tersimpan dengan kenyataan yang ada. Pada saat bermain anak dapat berpura-pura menjadi orang lain dan menirukan karakternya. Anak bisa menjadi polisi, guru, ayah, ibu, atau bayi. Jadi bermain memungkinkan anak menggunakan berbagai objek atau dirinya sebagai simbol dari benda-benda atau orang lain sehingga bermain disebut simbolik. Peran-peran yang dimainkan anak biasanya merepresentasikan peran-peran orang dewasa dalam masyarakatnya, sehingga kegiatan tersebut sangat berarti (meaningful) bagi kehidupan anak kelak.

E. Perkembangan Kemampuan Bermain
Pola perkembangan bermain menggambarkan pula perkembangan sosial anak. Terdapat enam tingkatan perkembangan bermain. Pada keenam bentuk kegiatan bermain tersebut terlihat adanya peningkatan kadar interaksi sosial, mulai dari kegiatan bermain sendiri sampai bermain bersama. Tahapan perkembangan bermain yang mencerminkan tingkat perkembangan sosial anak sebagai berikut:
1. Unoccupied Play
Pada unoccupied play sebenarnya anak tidak benar-benar terlibat dalam kegiatan bermain, melainkan hanya mengamati kejadian di sekitarnya yang menarik perhatian anak. Bila tidak ada hal yang menarik, anak akan menyibukkan diri dengan melakukan berbagai hal seperti memainkan anggota tubuhnya. Mengikuti orang lain, berkeliling atau naik turun kursi tanpa tujuan yang jelas.
2. Solitary play (Bermain sendiri)
Pada mulanya anak asyik bermain sendiri. Sifat egosentris yang tinggi menyebabkan anak bermain sendiri dan tidak peduli apa yang dimainkan temannya di sekelilingnya. Perilakunya yang bersifat egosentris dengan ciri antara lain tidak ada usaha untuk berinteraksi dengan orang lain, mencerminkan sikap memusatkan perhatian pada diri sendiri dan kegiatannya sendiri. Misalnya, anak menggunakan balok untuk membuat rumah, atau menjadi mobil-mobilan.
3. Onlooker play (Bermain dengan melihat cara temannya bermain)
Pada tahap ini anak yang tadinya bermain sendiri mulai melihat apa dan bagaimana temannya bermain. Ia sesekali berhenti bermain dan mengamati bagaimana temannya bermain. Sering anak menggunakan waktu yang cukup lama, asyik melihat temannya bermain. Jenis kegiatan bermain ini pada umumnya tampak pada anak berusia 2 (dua) tahun. Dapat juga tampak pada anak yang belum kenal dengan anak lain di suatu lingkungan baru, sehingga malu dan ragu-ragu untuk ikut bergabung dalam kegiatan bermain yang sedang dimainkan oleh anak-anak lainnya. Sambil mengamati anak mungkin juga mengajukan pertanyaan serta memperhatikan perilaku dan percakapan anak-anak yang diamatinya.
4. Paralel Play (Bermain paralel)
Bermain paralel tampak saat dua anak atau lebih bermain dengan jenis alat permainan yang sama dan melakukan gerakan atau kegiatan yang sama, tetapi bila diperhatikan tampak bahwa sebenarnya tidak ada interaksi diantara mereka. Mereka melakukan kegiatan yang sama, secara sendiri-sendiri pada saat yang bersamaan. Bentuk kegiatan bermain ini tampak pada anak-anak yang sedang bermain mobil-mobilan, membuat bangunan dari alat permainan lego atau balok-balok menurut kreasi masing-masing, bermain sepeda atau sepatu roda tanpa berinteraksi. Dengan melakukan kegiatan yang sama, anak dapat terlibat kontak dengan anak lain. Mereka melakukan kegiatan paralel, bukan kerja sama karena pada dasarnya mereka masih egosentris dan belum mampu memahami atau berbagi rasa dan kegiatan dengan anak lain.
5. Assosiative Play (Bermain asosiatif)
Pada tahap ini anak mulai bermain bersama, beramai-ramai. Bermain asosiatif ditandai dengan adanya interaksi antar anak yang bermain, saling tukar alat permainan, namun bila diamati akan tampak bahwa masing-masing anak sebenarnya tidak terlibat dalam kerja sama. Misalnya, anak sedang menggambar, mereka saling memberi komentar terhadap gambar masing-masing, berbagi pensil warna, ada interaksi diantara mereka tetapi sebenarnya kegiatan menggambar itu mereka lakukan sendiri-sendiri. Kegiatan bermain ini biasa terlihat pada anak usia pra sekolah. Kemampuan anak untuk dapat melakukan kerja sama dalam bermain bersama, tumbuhnya tergantung pada kesempatan yang dimilikinya untuk banyak bergaul dengan anak lain.
6. Cooperative Play (Bermain bersama)
Bermain bersama ditandai dengan adanya kerja sama atau pembagian tugas dan pembagian peran antara anak-anak yang terlibat dalam permainan untuk mencapai satu tujuan tertentu. Misalnya, bermain dokter-dokteran, bekerja sama membuat karya bangunan dari balok-balok dan semacamnya. Kegiatan bermain ini umumnya sudah tampak pada anak berusia 5 (lima) tahun, namun demikian perkembangannya tergantung pada latar belakang orang tua, sejauh mana orang tua memberi kesempatan dan dorongan agar anak mau bergaul dengan sesama teman.

F. Karakteristik Kegiatan Bermain
Beberapa karakteristik kegiatan bermain yang dilakukan oleh anak usia dini menurut Smith et al; Garvey;Rubin;Fein dan Vandenberg (dalam Mayke,2001:16) meliputi:
1. Dilakukan berdasarkan motivasi intrinsik, maksudnya muncul atas keinginan pribadi serta untuk kepentingaan sendiri.
2. Perasaan dari orang yang terlibat dalam kegiatan bermain diwarnai oleh emosi-emosi yang positif. Kalaupun emosi positif tidak tampil, setidaknya kegiatan bermain mempunyai nilai (value) bagi anak. Kadang-kadang kegiatan bermain dibarengi oleh perasaan takut, misalnya saat harus meluncur dari tempat tinggi, namun anak mengulang-ulang kegiatan itu karena ada rasa nikmat yang diperolehnya.
3. Fleksibilitas yang ditandai mudahnya kegiatan beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain.
4. Lebih menekankan pada proses yang berlangsung dibandingkan hasil akhir. Saat bermain, perhatian anak-anak lebih terpusat pada kegiatan yang berlangsung dibandingkan tujuan yang ingin dicapai. Tidak adanya tekanan untuk mencapai prestasi membebaskan anak untuk mencoba berbagai variasi kegiatan. Karena itu bermain cenderung lebih fleksibel, karena tidak semata-mata ditentukan oleh sasaran yang ingin dicapai.
5. Bebas memilih, dan ciri ini merupakan elemen yang sangat penting bagi konsep bermain anak-anak kecil. Sebagai contoh, pada anak usia dini menyusun balok disebut bermain bila dilakukan atas kehendak anak. Tetapi dikategorikan bekerja bila ditugaskan oleh guru. Kebebasan memilih menjadi tidak begitu penting bila anak beranjak besar.
6. Mempunyai kualitas pura-pura. Kegiatan bermain mempunyai kerangka tertentu yang memisahkannya dari kehidupan nyata sehari-hari. Kerangka ini berlaku terhadap semua bentuk kegiatan bermain seperti bermain peran, menyusun balok-balok, menyusun kepingan gambar dan permainan sejenisnya. Realitas internal lebih diutamakan dari realitas eksternal karena anak memberi makna baru terhadap objek yang dimainkan dan mengabaikan objek yang sesungguhnya.


G. Alat Bermain
Alat bermain selain dapat dibeli di toko-toko mainan, juga dapat diperoleh dari sekeliling kita. Orangtua sering tidak memahami karena tidak mengetahui caranya dan membutuhkan daya kreativitas untuk memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitarnya dengan seefisien mungkin. Terdapat beberapa alat bermain dan permainan yang dapat digunakan untuk kegiatan bermain anak usia dini.

1. Alat bermain dari lingkungan anak
Kita dapat mengambilnya dari lingkungan alam sekitar kita. Lingkungan alam penuh dengan alat bermain dan permainan yang kita temukan misalnya bijia-bijian, batu-batuan, bambu, pelepah dan bunga pisang, bermacam-macam daun, serabut dan tempurung kelapa, lidi dan daun kelapa, mendong (bahan untuk tikar), tanah liat, dan kulit kerang. Selain itu alat permainan dari benda yang sebenarnya atau miniaturnya sehingga anak akan menyukainya misalnya benda-benda yang diperoleh dari toko besi antara lain; karet gelang, sekrup-sekrup, catut, tang, gergaji kecil, penggaris, berbagai ukuran paku, dan ampelas dari ukuran kasar ke halus. Dari toko makanan dan kue alat bermain yang diperoleh misalnya gelas plastik bekas, cup eskrim dan sendoknya, piring kertas, biskuit huruf, tusuk gigi, dan tusuk sate. Pemanfaatan dan semua pengumpulan alat bermain tersebut memerlukan perhatian baik dari segi keamanan maupun kesehatan yang menjadi bahan pemikiran utama.
2. Alat bermain air dan pasir
Begitu anak dapat berjalan tertatih-tatih, tanahlah yang sangat menarik baginya. Ketika anak bermain pasir perlu dipersiapkan tempat yang teduh. Besar dan letak ketinggian bak pasir perlu disesuaikan dengan ukuran anak yang akan bermain. Pasir yang dipilih dapat berupa pasir dari pantai maupun dari sungai. Untuk menjaga keamanan anak, sebaiknya pasir dibersihkan secara berkala dengan cara mencucinya. Air, pasir, dan tanah selalu dilengkapi dengan peralatan yang dapat digunakan untuk bereksplorasi. Berbagai peralatan untuk bermain seperti mangkuk plastik, ayakan pasir dari plastik, berbagai cetakan macam-macam bentuk, dan corong air senantiasa perlu ditambah dan diganti agar anak tidak merasa bosan dan mendapat berbagai pengalaman baru.
3. Alat bermain dari kekayaan alam
Daun-daunan kering, ranting maupun dahan kecil dapat digunakan untuk bermain, misalnya digunakan untuk membentuk maupun berkreasi dan menghasilkan suatu karya. Bagus atau tidak karya itu, bukan menjadi masalah yang penting terjadi proses di dalam diri anak. Benda-benda yang berasal dari hasil tambang atau hasil laut perlu diperkenalkan pada anak, misalnya kerang, batu-batuan, dan tanah liat dapat menjadi karya yang bagus dengan dibimbing oleh pendidik.
4. Alat permainan edukatif
Alat permainan edukatif adalah alat permainan yang dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan. Setiap alat permainan edukatif dapat difungsikan secara multiguna. Sekalipun masing-masing alat memiliki kekhususan untuk mengembangkan aspek perkembangan tertentu, namun tidak jarang satu alat bermain dapat meningkatkan lebih dari satu aspek perkembangan. Alat edukatif untuk membangun terdiri dari semua alat permainan yang dibuat dengan berbagai macam bahan seperti plastik, kayu, gabungan berbagai bahan yang dapat digunakan untuk mencipta bangunan. Alat ini dapat berbentuk balok-balok dengan berbagai macam ukuran kecil, sedang maupun besar. Selain itu alat permainan edukatif untuk melatih berbagai macam pengertian mengenai warna, bentuk, dan ukuran dibuat dari segala macam bahan. Misalnya kertas, plastik, kayu atau campuran berbagai bahan dapat untuk mengasah pengertian warna, bentuk dan ukuran yang tidak terkira mapun terduga.Beberapa contoh alat permainan edukatif misalnya lotto berwarna, puzzel, papan pasak, papan hitung, biji untuk meronce, kartu berpasangan, dan permainan dengan kartu.alat permainan edukati ciptaan Montessori memudahkan anak untuk mengingat konsep-konsep yang akan dipelajari anak tanpa terlalu banyak dibimbing. Alat permainan edukatif ciptaan Montessori meliputi alat timbangan, silinder dengan ukuran serial sepuluh ukuran, tongkat desimeter, gambar untuk dicontoh, bentuk segitiga, empat, enam yang dipecah-pecah, bentuk tiga dimensi, kerucut, kubus, prisma, dan bola, bujur telur, dan limas. Alat ini dirancang sedemikian rupa sehingga anak dapat memeriksa sendiri, berarti jika slah anak akan segera menyadarinya untuk segera ia perbaiki.

H. Teman Bermain
Selain alat permainan, anak juga membutuhkan teman bermain. Pada saat bayi sampai sebelum masuk Kelompok Bermain teman bermain yang utama adalah orang tua atau pengasuhnya sendiri. Mereka ini bukan hanya berfungsi sebagai teman bermain, tetapi juga sebagai alat permainan dan orang-orang yang membuat permainan. Misalnya apada usia sekitar 8 (delapan) bulan – (1) satu tahun, anak memegang hidung, mencoba menyentuh mata ibunya. Setelah besar sedikit, ayah atau ibunya bisa menjadi menjadi kuda untuk ditunggangi, orang tua membuat gerakan-gerakan lucu dan menyebabkan anak tertawa senang.
Peran orang tua atau pengasuh sebagai teman bermain sangat penting karena dengan demikian membantu anak menemukan kesenangan melalui bermain dengan alat-alat permainan, dengan orang lain, keajaiban yang ia temui, bahkan belajar bagaimana bermain sendirian. Pengalaman bermain dengan orang tua merupakan dasar untuk kegiatan bermain di kemudian hari. Anak yang mempunyai hubungan baik dengan ibu dan ayahnya akan lebih mudah bermain bersama orang lain.
Pada usia dini, anak belajar apakah keingintahuan anak akan ditanggapi secara baik atau tidak, apakah kemandirian anak didukung atau tidak dan apakah jika anak mencoba untuk melakukan sesuatu yang baru ia merasa aman atau tidak. Melalui bermain bersama orang tua, anak akan menemukan apakah orang-orang bersahabat dan hangat. Semuanya ini merupakan sebagian dari hal-hal yaang diperoleh anak melalui kegiatan bermain bersama orang tua.
Bila anak mempunyai saudara seperti kakak atau sepupu, mereka dapat berfungsi sebagai tean bermain anak. Kakak atau saudara lain bisa berperan sebagai model dan guru bagi anak, seringkali anak yang lebih besar tidak bosan-bosannya unttuk mengulang-ulaang apa yang mereka lakukan saat bermain dengan adik yang lebih kecil. Dengan demikian anak yang lebih kecil terdorong untuk mempelajari apa yang dilakukan kakaknya. Selain pengalaman yang menyenangkan, anak juga akan mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan dengan kakak, muncul pertengkaran dan ini merupakan hal yang wajar supaya anak belajar unttuk menghadapi kenyataan bahwa hubungaan tidak selalu aman-aman saja dan anak belajar bagaimana mengatasinya. Setelaah anak masuk sekolah Kelompok bermain atau Taman Kanak-Kanak, ia memperoleh kesempatan yang lebih besar untuk bermain dengan teman sebayanya.
Selain orang tua, saudara dan tean sebaya, binatang peliharaan juga dapat berfungsi sebagai teman bermain. Tetapi sebelum memutuskan untuk memelihara binatang, perlu dikaji lebih dahulu dari segi keamanan, kebersihan, serta kesehatan anak dan waktu yang digunakan untuk merawat binatang tersebut. Binatang-binatang peliharaan sangat bervariasi, mulai dari burung, ikan, kura-kura, kelinci, kucing, maupun anjing. Dengan adanya binaatang peliharaan, anak belajar bertanggung jawab walaupun anak tidak bisa dituntut untuk merawatnya, namun dia dapat membantu orang tua. Anak dapat memperoleh pengalaman berharga dengan mengamati proses perkawinan, reproduksi binatang,induk yang menyusui anaknya dan kematian.


I. Jenis-jenis Permainan yang Selaras dengan Perkembangan Anak Usia Dini
Permainan untuk anak usia dini sangat banyak variasinya. Tidak ada batasan kapan permainan ini harus diterapkan sesuai usianya, tetapi yang penting permainan diterapkan dari yang sederhana sampai yang sulit atau yang benar-benar meningkatkan daya pikir anak. Kegiatan bermain untuk anak usia dini tidak perlu terlalu terpolakan dengan penuh masalah dan kerumitan. Pedoman utamanya ialah sebanyak mungkin semua kegiatan dikerjakan anak, diciptakan anak, tanpa terlalu banyak campur tangan pendidik (orang tua atau guru). Jenis-jenis permainan yang selaras misalnya:
1. Permainan manipulatif, yaitu memainkan alat-alat yang akan memberi kesempatan mengajarkan konsep. Dari warna, bentuk, ukuran, jumlah, bilangan, membandingkan, dan menyamakan.
2. Permainan imajinasi, yaitu mempersiapkan situasi profesional dengan berbagai atribut yang dimiliki profesi tersebut.
3. Permainan membaca, yaitu menggunakan alat untuk menyenangi membaca atau memulai mengadakan eksplorasi awal baca tulis.
4. Permainan membangun, yaitu memberi keempatan untuk membangun dengan berbagai bahan, balok, kardus, kayu, dan kotak kayu.
5. Permainan olahraga, yaitu beragam kegiatan bermain olah tubuh, estafet, permainan dengan nyanyian, dengan alat atau tanpa alat olahraga.
6. Permainan matematika, yaitu permainan hitung-menghitung, lotto, domino.
7. Permainan yang berhubungan dengan IPA, yaitu permainan mengenal flora dan fauna, kondisi alam sekitar.
8. Permainan rumahtangga, yaitu permainan dengan berbagai peran anggota keluarga dan situasi rumah.
9. Permainan keterampilan dan seni, yaitu permainan masak memasak, seni musik, keterampilan seni.
10. Permainan jual-beli, yaitu permainan dengan menggunakan situasi toko, supermarket, kedai, bank, pasar, dan lain-lain.
11. Permainan pasir dan air, yaitu permainan yang memanfaatkan pasir dan air dengan segala peralatan yang terkait.

E. Bentuk-bentuk Kegiatan Bermain
Kegiatan bermain menurut jenisnya dapat terbagi menjadi dua yaitu kegiatan bermain aktif dan kegiatan bermain pasif. Kegiatan bermain aktif usia dini banyak dilakukan pada masa usia 3-4 tahun, sedangkan kegiatan bermain pasif lebih mendominasi kegiatan pada akhir masa kanak-kanak. Tetapi tidak berarti bahwa kegiatan bermain aktif akan menghilang dan digantikan oleh kegiatan bermain pasif sebab kegiatan kedua jenis kegiatan bermain ini selalu ada bersama, hanya penekanannya yang berbeda. Beberapa bentuk kegiatan bermain aktif antara lain;
1. Bermain bebas dan spontan
Kegiatan bermain ini dilakukan di mana saja, dengan cara apa saja, dan berdasarkan apa yang ingin dilakukan. Maksudnya tidak ada aturan permainan yang harus dipatuhi anak selama ia suka, ia bebas melakukannya.anak melakukan kegiatan bermain ini bila menemukan adanya sesuatu yang baru dan berbeda dari apa yang biasa dilihatnya. Atau bisa saja anak asyik bermain bebas dengan mainan baru yang mengundang rasa ingin tahu anak. Kalau mainan tersebut menyenangkan dan menantang anak untuk tahu lebih banyak, maka makin banyak pula waktu yang digunakan untuk bermain bebas. Kegiatan bermain ini umumnya banyak dijumpai pada anak usia antara 3 bulan sampai sekitar 2 tahun. Misalnya, bayi akan asyik mengamati kerincingan yang digantungkan di atas tempat tidurnya. Bayi akan mencoba meraih kerincingan itu atau kakinya menendang-nendang tempat tidurnyaa sehingga kerincingan bergerak serta menimbulkaan suara-suaraa tertentu.
2. Bermain konstruktif
Kegiatan bermain ini menggunakan berbagai benda yang ada untuk menciptakan suatu hasil karya tertentu. Yang termasuk kegiatan bermain ini misalnya menggambar, mencipta bentuk tertentu dari lilin mainan, menggunting dan menempel kertas atau kain, dan merakit kepingan kayu atau plastik. Berbagai manfaat bisa diperoleh melalui kegiatan bermain ini, antara lain mengembangkan kemampuan anak untuk berdaya cipta (kreatif), melatih keterampilan motorik halus, melatih konsentrasi, ketekunan, dan daya tahan. Jika anak berhasil, akan menimbulkan rasa puas mendapat penghargaan sosial (pujian dari orang lain) yang akan meningkatkan keinginan anak bekerja lebih baik lagi.
3. Bermain peran
Kegiatan bermain peran adalah kegiatan dengan pemberian atribut tertentu terhadap benda, situasi dan anak memerankan tokoh yang ia pilih. Apa yang dilakukan anak tampil dalam tingkah laku yang nyata dan dapat diamati dan biasanya melibatkan penggunaan bahasa. Kegiatan bermain peran ini disukai dan sering dilakukan anak usia 2-7 tahun. Dalam kegiatan bermain peran ini anak melakukan impersonalisasi terhadap karakter yang dikagumi atau ditakutinya baik yang ditemui dalam hidup sehari-hari maupun tokoh yang ia tonton dari film. Awalnya kegiatan bermain peran lebih bersifat reproduktif atau merupakan pengulangan dari apa yang dilihat atau dialami anak dan dilakukan sendirian. Dengan meningkatnya usia kegiatan bermain peran lebih bersifat produktif karena dari segi perkembangan kognisi, anak sudah lebih mampu mengkreasikan ide-ide yang original dan dengan adanya teman bermain biasanya anak akan bermain peran bersama temannya. Manfaat bermain peran ini bagi anak adalah untuk membantu penyesuaian diri anak. Dengan memerankan tokoh-tokoh tertentu anak belajar tentang aturan-aturan atau perilaku apa yang bisa diterima oleh orang lain, baik dalam peran sebagi ibu, ayah, guru, murid, dokter atau profesi lainnya. Anak juga belajar untuk memandang suatu masalah dari kacamata tokoh-tokoh yang diperankan sehingga diharapkan dapat membantu pemahaman sosial pada diri anak.
4. Mengumpulkan Benda-benda
Kegiatan bermain ini dijumpai pada anak usia sekitar 3 tahun. Anak-anak mengumpulkan barang-barang yang menarik minatnya. Anak merasa puas jika hasil koleksinya bisa melebihi temannya. Bila anak mulai mempunyai teman bermain, maka mereka akan saling bertukar koleksinya dengan teman. Pada awalnya anak-anak senang mengumpulkaan benda yang dijumpai bukan karena harganya yang mahal atau bentuknya bagus, tetapi anak hanya senang melakukan kegiatan mengumpulkan saja. Seringkali benda-benda itu akhirnya terlupakan oleh anak. Sejak anak memasuki usia 6 atau 7 tahun maka mereka senang mengumpulkan barang-barang tertentu misalnya mengumpulkan perangko, gambar-gambar tertentu, kartu dari tokoh-tokoh film kartun, atau artis dan tokoh olahraga ternama.
5. Melakukan Penjelajahan (Eksplorasi)
Kegiatan eksplorasi dijumpai pada aktivitas seperti karya wisata, rekreasi ke tempat-tempat yang akan memberikan pengalaman-pengalaman baru bagi anak. Saat bayi, anak melakukan penjelajahan yang dikenal dengan bermain bebas dan spontan. Pada anak yang usianya lebih besar eksplorasi dilakukan secara terencana dan ada pengaturannya karena biasanya melibatkan sekelompok teman. Sebaiknya ada orang yang mengarahkan dan membimbing anak. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari bermain eksplorasi adalah menambah pengetahuan anak dan mendorong anak untuk mencari tahu hal-hal yang baru, mendukung kepribadian yang positif misalnya bersikap tenang menghadapi masalah, bersikap sportif dan percaya diri. Manfaat lainnya dari menjelajah ini adalah sebagai alat bantu bagi anak untuk bersosialisasi atau menyesuaikan diri dengan teman-teman. Anak berada jauh dari orang tua yang biasanya melindungi serta membimbingnya maka ia perlu belajar menyesuaikan diri terhadap harapan-harapan teman.
6. Permainan (games) dan Olahraga
Permainan dan olahraga adalah kegiatan bermain yang ditandai aturan serta persyaratan yang disetujui bersama. Olah raga selalu berupa kegiatan fisik sedangkan permainan bisa berupa kegiatan fisik atau kegiatan mental. Permainan dilakukan dalam bentuk permainan individual, bersama teman, beregu, dan permainan dalam ruang maupun di luar ruang. Dalam permainan ini anak dapat menilai dirinya sendiri maupun ketrampilan-ketrampilan yang dikuasainya secara nyata dengan membandingkan dengan anak lain yang sebaya. Anak yang kurang diterima oleh teman-temannya lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga atau orang tuanya, yang umumnya bersikap lebih longgar ataupun banyak mengalah pada anak.
7. Musik
Kegiatan bermain musik misalnya bernyanyi, memainkan alat-alat musik, atau melakukan gerakan-gerakan atau tarian yang diiringi musik. Bernyanyi merupakan kegiatan yaang paling banyak dilakukan karena tidak menuntut keahlian memainkan alat musik tertentu. Manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini adalah untuk ekspresi diri daan memupuk rasa percaya diri pada anak. Karena ia mampu bernyanyi atau memainkan alat musik tertentu, mereka dapat menyenangkan diri sendiri, sekaligus belajar untuk menjadi kreatif jika kegiatan ini bermain bersama teman maka anak dapat belajar bekerjasama.
Beberapa kegiatan bermain pasif antara lain:
1. Membaca
Membaca termasuk kegiatan bermain pasif pada anak usia dini dengan cara dibacakan cerita oleh orang tua atau orang lain atau membaca sendiri. Manfaat psikologis dari kegiatan membaca yaitu anak lebih percaya diri dan lebih mandiri. Tidak perlu menggantungkaan diri pada orang lain jika anak sudah bisa membaca untuk memperoleh hiburan dan mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya, memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan kepribadian anak dikemudian hari.
2. Melihat komik
Kegiatan bermain ini yaitu anak melihat kartun bergambar dimana unsur-unsur gambar lebih penting dari ceritanya. Anak usia dini umumnya menyukai komik yang terdiri dari tokoh binatang seperti Donal Bebek, Miki Tikus, Tom Jerry, dan sebagainya. Komik banyak digemari anak-anak karena tanpa membaca tulisannya atau tanpa ada tulisanpun seseorang sudah dapat menangkap ceritanya dan tidak usah bersusah payah untuk membaca uraian yaang tercantum dalam buku.
3. Menonton Film
Adanya kemajuan teknologi, anak-anak dapat menikmati film tidak hanya di bioskop, tetapi juga di rumah baik melalui acara yang ditayangkan di Televisi maupun memutar video tape atau compact disc. Sebagai dampak dari kemajuan teknologi tersebut, anak mempunyai kesempatan lebih besar untuk menonton film tanpa pergi ke bioskop atau menunggu tayangan film di bioskop. Mulai usia 3 sampai 6 tahun terdapat peningkatan yang cukup tajam dalam jumlah waktu yang digunakan untuk menonton televisi. Televisi dapat dianggap sebagai pengganti pengasuh anak karena anak menjadi asyik sendiri tanpa perlu terlampau banyak diawasi oleh orang tua.
4. Mendengarkan radio
Kegiatan ini cukup digemari pada masa lalu, tetapi setelah ditemukan televisi acara mendengarkan radio menjadi tidak populer lagi. Mendengarkan radio kurang disukai anak-anak kecil pada saat ini karena mereka lebih menyukai untuk menonton televisi atau VCD. Pada kegiatan mendengarkan radio anak usia dini menyukai program cerita anak-anak yang menyangkut binatang ataupun cerita-cerita tentang orang-orang yang melakukan pekerjaan yang cukup dikenal anak misalnya tukang sayur, pak tani, dokter, guru, dan sebagainya.

5. Mendengarkan Musik
Kegiatan mendengarkan musik dinikmati bayi sebagai suatu hal yaang dapat menghibur dan menyenangkan. Musik dapat didengar melalui siaran radio, TV, ataupun pita/rekaman lagu. Dengan meningkatnya usia, anak lebih gemar mendengarkan musik dan memuncak saat remaja. Kegiatan mendengarkan musik akan membawa pengaruh positif pada anak usia dini seperti menyenangkan diri sendiri, menenangkan perasaan yang tidak nyaman, sebagai penyaluran emosi anak karena anak bisa terhanyut dalam lagu yang didengarnya.


DAFTAR PUSTAKA

Ikhwan Fauzi. 2003. Cerdaskan anak dengan Bermain. Cn/dwpp/Ikhwan. 3 Maret 2006.

Mayke S. Tedjasaputra. 2001. Bermain, Mainan, dan Permainan untuk Pendidikan Usia Dini. Jakarta: PT Grasindo.

Sri Widiyaretno. 2002. Peran Orang tua dalam membangkitkan Potensi Anak. www.dwp-or.id. 20 Mei 2005.

Yani Mulyani dan Juliska Gracinia. 2005. Belajar di Rumah untuk Anak Usia Pra-Sekolah. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

-------. Pengaruh Permainan pada Perkembangan Anak . Dikutip dari temu Ilmiah Tumbuh Kembang Jiwa anak dan remaja. Iqeq.web.id. 3 Maret 2006.










.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar